Annotectone

Alfa's personal note about books, movies, and stuff .

  • Home
  • Review
    • Books
    • Movie
    • Audio
    • Misc
  • Genre
    • Romance
    • Young Adult
    • Historical Fiction
    • Horror
    • Fantasy
  • Favourites
  • Recent Post

Sigh. What a waste of time.

Iya, mestinya saya udah siap dengan segala resiko waktu dikasih tahu bahwa ratingnya di IMDB cuma 4.4/10. Tapi karena posternya bagus, yaudahlah akhirnya saya nonton juga :-(

Waktu lihat judulnya, jujur saya berharap dapat alternate reality-nya cerita Aurora punya Disney. Tapi ternyata dari awal Briar Rose muncul, udah ketebak banget gimana alur ceritanya. Kenapa? Karena makeupnya. She definitely looks wicked from the very beginning, with those smoky eyes and dark lipstick and thorny crown! (Personally I think it'd be better if she'd dressed more innocently or conservative at first, just for the sake of withholding the plot twist. Maybe more like the plain-but-pretty gown she wore in real life?)

So, no need to say that I'm not the least surprised when it turns out that the devil-like creature was actually the girl's guard. After all, I was like "wtf thomas are you a fool or what??" almost the whole movie.

Mendekati akhir, saya mulai curiga ini kenapa ceritanya baru mau klimaks tapi waktunya tinggal 30 menit. Dan ternyata............ cliffhanger. Zonk. It ends just like that, with no resolution or whatever. Padahal saya bela-belain nonton sampai akhir cuma karena pengen tahu gimana latar belakang cerita si Briar bisa tidur dan gimana caranya nanti dia dibunuh. Duhh.

Tapi terlepas dari screenplay yang mengecewakan, film ini eksekusinya bagus banget (the mannequin thingy was so creepy). Musik dan sinematografinya keren, aura seremnya juga dapet.

(Atau jangan-jangan, mungkin film ini memang merencanakan adanya TCOSB 2? Semoga iya, karena di reviewnya pun banyak orang yang kecewa gara-gara masalah cliffhanger ini. But really, why cut a movie in half when you can just go all-out and make the best of it?)

Maybe I'll watch, maybe not. I'll make sure to check the rating first.. just in case.

http://www.imdb.com/title/tt4118606/




Alasan baca The Ice Twins: karena denger-denger, buku ini mau diadaptasi jadi film. Trus saya nemu versi ebooknya dan jadi penasaran. Hmm... seems promising. Lihat halamannya juga nggak banyak-banyak amat, cuma sekitar 300an jadi saya pikir bisa lah diselesein setelah UTS kelar.
.
.
.
Awal-awal baca, honestly, I was dissapointed. Karena ceritanya dimulai dengan standar cerita horor: anak bermasalah, ibu yang terlalu emosional, ayah pemabuk, lokasi terisolasi. Tapi karena saya masih berharap banyak pada plot soal identitas si kembar yang tertukar-tukar, ya apa boleh buat. Tanggung juga udah baca setengah buku, meskipun mostly isinya cuma nyeritain tentang masalah orang tuanya.

Well, saya memang tipe pembaca yang gampang bosan sih, jadi buat saya paragraf panjang lebar soal pulau terpencil yang cantik sama sekali nggak appealing (yes I got the big picture, the lighthouse and beaches and mud flats, but skipped the details). Sayang sih, padahal di Goodreads banyak review yang muji deskripsinya bagus :-/

Terus saya salah tebak genre juga ternyata. Kirain horror yang supernatural... eh setelah dibaca-baca rupanya lebih ke psychological. Dan di sinilah kekecewaan saya yang paling berat: saya nggak bisa bersimpati sama karakternya. Lebih spesifik: ke ibunya si kembar, yang notabene subjek POV dari mana mayoritas cerita ini ditulis. Padahal sebagai perempuan, biasanya saya jauh lebih relate ke karakter yang bergender sama.

Iya sih, di akhir memang akhirnya terungkap kalau ternyata di menderita gangguan mental, yang bikin pola pikirnya agak kacau. Tapi bahkan dari awal baca, saya udah jauh lebih percaya sama Gus daripada Sarah. She's just downright implausible. Especially about that absurd hypothesis 'Elevated levels of paternal sexual abuse in identical twins'; like seriously??? Where on earth did it come from????

Singkatnya, novel ini aspek misterinya dapet. Karena sudah ada cukup banyak plot twist untuk 'menyembunyikan' fakta sebenarnya dari kematian si saudara kembar, dan siapa sebenarnya yang mati. Tapi kalau menurut saya pribadi sih, psychological thriller-nya nggak begitu berasa. Mungkin karena gaya bahasa atau cara penceritaanya, entahlah.

(P.S: Not that I can write better than this, haha. Just an opinion, no offense.)

(P.P.S: Btw kayaknya masalah saya dengan buku ini cuma di tulisannya, jadi semoga saja nanti buku ini bisa jadi film bagus.)

https://www.goodreads.com/book/show/25735003-the-ice-twins

Awalnya, saya nggak sengaja lihat buku ini pas lagi (kurang kerjaan) sweeping di book departement-nya web Amazon. Telat banget taunya kalau ternyata The Shining punya sekuel, haha.

Sebenernya secara personal, menurut saya buku yang pertama lebih serem. Idk, because I think it's more of a psychological horror?? You know, that kind of horror that makes you believe the real problem is actually inside your head--instead of just scary creatures from the other side? To me, that makes the clash between human minds and evil spirits sounds way more believable... somehow (not that I expect perfect logic and reasoning from a fiction book though, let alone a horror novel; but still).

Sementara di Doctor Sleep, beda antara peran antagonis dan protagonisnya jauh lebih jelas. Tapi yah... karena ide ceritanya bagus dan eksekusinya perfecto, saya masih seneng bacanya. Semula sempat ketar-ketir takut tamatnya bad ending (saya bukan maso, makasih), tapi ternyata enggak hahaha. Not the classic happily-ever-after; more like bittersweet to be exact--but at least Dan and Abra makes it to the end so I am all smiles. All hail Stephen King!

Karakter favorit: Danny (yang di sini saya baru ngeh kalo nama tengahnya ternyata Anthony??? Buang-buang waktulah kemaren saya bertanya-tanya apa kabar Tony setelah The Shining tamat).

https://www.goodreads.com/book/show/17406532-doctor-sleep


Personally, saya paling suka yang buku pertama. Terus karena endingnya berhenti dengan cliffhanger, saya akhirnya //terpaksa// baca buku kedua. A bit less fun (salah saya juga sih, karena kemaren saya kira buku ini bakal mirip Hunger Games yang suadis banget itu).

Buku ketiga, The Death Cure, isinya lebih banyak action (kucing-kucingan antara gengnya Thomas dan Wicked dan si konselor dan lain-lain). Saya masih berjuang namatin buku ini karena saya masih penasaran gimana akhirnya; dan saya termasuk orang yang nggak terima kalau novel yang udah dibaca panjang-panjang ternyata sad ending. -->>pembaca macam apa ini

Ding ding, ternyata harapan saya terkabul. Tapi sayang, endingnya ini rupanya tipe ending yang enggak begitu klimaks--dan setelah selesai baca saya jadi literally bengong "Hah? Udah tamat? Udah gini doang?"

Tapi diantara semuanya, kayaknya saya masih paling kecewa sama yang The Kill Order. Saya kira di sini bisa lebih dijelasin tentang Wicked atau Flare (anyway, the science-fiction tag is the reason why I read this on the first place), tapi ternyata nggak juga.

Empat bintang buat MR, dan tiga untuk sisanya--salahin Goodreads yang cuma mengizinkan penilaian bulat. Kalau resolusinya dinaikin, mungkin buku #1=4, buku#2=3.3 dan buku #3=3.5. Karena meskipun nggak begitu sreg dengan plotnya, saya masih apresiasi sekali sama gaya tulisannya. Dan karena didominasi action, kayaknya cerita ini bakal lebih enjoyable dinikmati dalam bentuk film.
 
https://www.goodreads.com/book/show/7631105-the-scorch-trials
https://www.goodreads.com/book/show/7864437-the-death-cure
https://www.goodreads.com/book/show/13089710-the-kill-order



Mungkin karena saya emang jarang-jarang baca novel drama, apalagi historical fiction (yang di mindset saya pasti 'berat'), ekspektasi saya nggak begitu tinggi sewaktu mulai baca. Saya bahkan cuma skimming di beberapa bagian.

Tapi beberapa chapter kemudian, saya baru mulai 'hanyut' setelah ngeh kalau ini ceritanya nyerempet-nyerempet Holocaust (which is salah satu tema sejarah yang menurut saya menarik). Jujur saja di awal saya pikir tokoh utamanya cuma Isabelle Rossignol, yang memang karakternya bener-bener stand out dan tipikal MC sekali: jujur, cantik, berani, mau berkorban untuk orang lain. Jadi kemudian ketika cerita berlanjut dan makin lama saya malah makin relate ke Vianne, rasanya jadi agak guilty gimana gitu ya aha ha ha ha (mungkin karena personality saya emang lebih deket ke dia daripada ke Isabelle).

Tapi ternyata, buku ini nggak lama-lama bikin saya kecewa; karena ternyata mba Hannah nggak cuma menceritakan tentang orang-orang heroik yang berperang di garis depan... tapi juga para 'pahlawan di balik layar' yang berjuang dengan cara mereka sendiri. Haha, saya makin ngefans ke Vianne, dong.

An instant five stars. Nggak heran The Nightingale menang award di Goodreads. Kayaknya udah lama saya nggak baca buku yang bisa bikin saya mencak-mencak ketika salah satu karakter sampingannya mati.... //lirik Kapten Beck//

https://www.goodreads.com/book/show/21853621-the-nightingale

A friend recommended this to me (along with Eragon, actually--but it's a very long read so let's save that for another day), and said it worth a read.

And yes, it is. Seenggaknya lumayan menarik karena ternyata saya bisa betah selesein tanpa selingkuh ke buku yang lain. Maybe it was the curiosity (a.k.a. "What the shuck is going on!?") that kept me reading till the end. Tapi sayang endingnya nggantung bangeet sih hiks. Guess I have no choice but to read The Scorch Trial...

Karakter favorit sejauh ini: Newt.

Things that buggin me:

- Somehow I found the heroine wasn't so likeable. Mungkin cuma memang karena character development-nya belum nyampe ke dia kali ya. Tapi dengan Thomas berkali-kali menggambarkan dia sebagai "pretty, smart, have a pair of beautiful blue eyes"... rasanya jadi agak gimana gitu. Maybe would be much better if it was shown, instead of just being told from one's perspective?
- Di chapter awal. saya bener-bener relate ke Thomas ketika setiap kali nanya ke orang tentang sesuatu (bahkan untuk hal-hal simpel kayak "Itu apaan sih?"), mereka selalu nggak mau jawab. Sekali dua kali oke; tapi pas udah berkali-kali jatuhnya bukan misterius lagi, tapi ngeselin.

Four of five stars.

https://www.goodreads.com/book/show/6186357-the-maze-runner
Postingan Lebih Baru Beranda

About Me



Arum/1993/Madiun-Tangerang. A student. This blog exist just for the sole purpose of keeping track about books I read, movies I watch, podcasts I listen and miscellaneous stuff.

Popular Posts

  • Read: The Ice Twins
    Alasan baca The Ice Twins: karena denger-denger, buku ini mau diadaptasi jadi film. Trus saya nemu versi ebooknya dan jadi penasaran....
  • Read: The Maze Runner Series
    Personally, saya paling suka yang buku pertama. Terus karena endingnya berhenti dengan cliffhanger, saya akhirnya //terpaksa// baca buk...
  • Read: The Nightingale
    Mungkin karena saya emang jarang-jarang baca novel drama, apalagi historical fiction (yang di mindset saya pasti 'berat'), ...
  • Read: Doctor Sleep
    Awalnya, saya nggak sengaja lihat buku ini pas lagi (kurang kerjaan) sweeping di book departement-nya web Amazon. Telat banget taunya ka...
  • Read: The Maze Runner
    A friend recommended this to me (along with Eragon, actually--but it's a very long read so let's save that for another day), a...
  • Watch: The Curse of Sleeping Beauty
    Sigh. What a waste of time. Iya, mestinya saya udah siap dengan segala resiko waktu dikasih tahu bahwa ratingnya di IMDB cuma 4.4/10. Ta...

Arsip Blog

  • ▼  2016 (6)
    • ▼  Juni (3)
      • Watch: The Curse of Sleeping Beauty
      • Read: The Ice Twins
      • Read: Doctor Sleep
    • ►  Mei (1)
      • Read: The Maze Runner Series
    • ►  April (2)
      • Read: The Nightingale
      • Read: The Maze Runner

Quote

Quote
Arum Puspitasari. Diberdayakan oleh Blogger.

Mengenai Saya

Arum
Lihat profil lengkapku
Copyright © 2015 Annotectone

Created By ThemeXpose